WORK-LIFE BALANCE VERSI GEN Z: BUKAN SEKADAR WAKTU, TAPI MAKNA DAN KENDALI

WORK-LIFE BALANCE VERSI GEN Z: BUKAN SEKADAR WAKTU, TAPI MAKNA DAN KENDALI

Generasi yang Berbeda, Ekspektasi yang Berbeda

 

Generasi Z, anak-anak muda kelahiran antara 1997 dan 2012 tumbuh dalam lanskap digital yang nyaris tanpa batas. Mereka tidak pernah hidup tanpa internet, terbiasa multitasking antara tugas sekolah dan media sosial. Mereka menjadikan kecepatan dan efisiensi sebagai “norma” baru. Ketika memasuki dunia kerja, ekspektasi mereka tak hanya soal gaji dan jabatan, tetapi juga soal keseimbangan hidup. Namun, makna work-life balance (WLB) bagi Gen Z tidak lagi sekadar pemisahan waktu kerja dan waktu pribadi. Bagi mereka, WLB adalah tentang makna, kendali, dan keberlanjutan hidup secara utuh di dunia kerja yang semakin fleksibel tapi juga menuntut.

Gen Z tidak hanya ingin bekerja untuk hidup, tetapi juga ingin hidup yang bermakna melalui pekerjaan mereka. Gen Z cenderung memilih tempat kerja yang visi dan misinya mencerminkan nilai-nilai mereka serta pimpinan yang menunjukkan empati dan fleksibilitas. Bukan berarti mereka enggan bekerja keras, tetapi mereka ingin bekerja dalam konteks yang sehat, adil, dan memberi ruang untuk berkembang. Selain itu, Gen Z juga memiliki keberanian untuk mengatakan "tidak" pada sistem kerja yang dianggap tidak “bersahabat”. Generasi ini menunjukkan sikap kritis terhadap budaya hustle dan mulai menuntut perubahan dalam budaya organisasi. Mereka tidak segan berpindah tempat kerja jika merasa tidak dihargai secara emosional, meskipun secara finansial mencukupi. Dengan karakter ini, Gen Z sedang membentuk ulang definisi sukses dan kebahagiaan dalam dunia kerja masa kini dan masa depan.


Fleksibilitas Kerja : Harapan dan Jebakan

Fleksibilitas kerja, seperti remote dan hybrid working, menjadi daya tarik utama bagi Gen Z. Survei Deloitte (2023) menunjukkan 75 persen Gen Z lebihmemilih sistem kerja hybrid atau remote yang fleksibel untuk mendukung keseimbangan hidup mereka. Mereka ingin bekerja dari mana saja, kapan saja, dengan ritme yang sesuai prefrensi pribadi. Namun, fleksibilitas ini ering kali menjadi paraoks ketika batas antara ruang kerja dan ruang pribadi kabur. Gen Z menghadapi tantangan baru, seperti kesulitas untuk benar-benar “disconnect”, perasaan bersalah saat istirahat, hingga tekanan untuk sellu produktif. Fleksibilitas yang awalnya menawarkan kebebasan justru bisa menjadi jebakan jika tidak diimbangi dengan struktur kerja yang jelas. Banyak pekerja muda merasa harus selalu responsif terhadap pesan dan notifikasi, bahkan di luar jam kerja. Situasi ini menciptakan tekanan emosional yang terus-menerus, seperti perasaan kurang produktif, kecemasan karena tidak “stand by”, dan kelelahan akibat hilangnya batas tegas antara waktu kerja dan waktu pribadi.

Bahkan dalam sistem kerja fleksibel, ekspektasi produktivitas tinggi tetap melekat. Hal ini menunjukkan bahwa kebebasan dalam mengatur waktu tidak otomatis menjamin WLB. Tanpa dukungan kebijakan organisasi yang menjamin waktu istirahat, fleksibilitas justru bisa memperbesar beban psikologis. Maka dari itu, penting bagi organisasi untuk tidak hanya memberikan fleksibilitas secara teknis, tetapi juga membangun budaya yang menghormati batasan personal dan mengedepankan kesejahteraan mental pekerjanya.

Makna Work-Life Balance bagi Gen Z

Berbeda dari generasi sebelumnya yang melihat WLB sebagai pemisahan waktu yang tegas antara pekerjaan dan kehidupan pribadi, Gen Z memaknai WLB sebagai integrasi yang sehat dan bersahabat (Twenge, 2017; Hill et al., 2021). Bagi mereka, WLB adalah tentang kendali atas waktu dan energi, sehingga mereka bisa menentukan jam kerja yang paling produktif bagi diri sendiri. WLB juga menjadi ruang untuk ekspresi diri dan kesehatan mental. Terkait makna dalam pekerjaan, mereka tidak hanya bekerja demi penghasilan, tetapi juga ingin merasa terhubung dengan nilai dan dampak sosial dari pekerjaannya (Deloitte, 2023).

Dalam konteks ini, WLB tidak berarti bekerja lebih sedikit, tetapi bekerja secara lebih sadar dan bermakna. Mereka menginginkan otonomi untuk menentukan kapan dan bagaimana mereka bekerja, tanpa kehilangan arah dan makna dari pekerjaan itu sendiri. Hasil penelitian penulis pada 2025 terhadap 200 pekerja remote Milenial dan Gen Z di sektor teknologi digital menemukan bahwa  job demands atau tuntutan pekerjaan memiliki pengaruh negatif signifikan terhadap WLB, sedangkan job resources atau sumber daya pekerjaan seperti fleksibilitas kerja dan dukungan sosial, serta self-efficacy atau efikasi diri, berpengaruh positif signifikan. Temuan ini menunjukkan bahwa Gen Z yang memiliki sumber daya kerja yang memadai dan keyakinan diri yang kuat, lebih mampu menjaga keseimbangan hidup di tengah tuntutan kerja digital yang tinggi.

Gen Z juga cenderung menghindari pekerjaan yang menguras energi tanpa arah, atau yang memaksa mereka mengorbankan hubungan sosial dan waktu pribadi. Alih-alih mengejar karier dengan ambisius, mereka lebih memilih ritme hidup yang seimbang, di mana kerja, istirahat, relasi sosial, dan pengembangan diri berjalan beriringan. Hal ini menunjukkan pergeseran nilai yang mendalam. Gen Z memandang bahwa kesuksesan tidak lagi identik dengan kerja lembur atau posisi tinggi, melainkan dengan kualitas hidup yang utuh, selaras antara tanggung jawab profesional dan kebutuhan personal.


Work-life Balance di Era Kerja Digital: Tekanan Tak Kasat Mata

Meski teknologi memungkinkan fleksibilitas, tapi juga menghadirkan tekanan tak kasat mata. Aplikasi kolaborasi seperti Slack, Zoom, atau WhatsApp membuat komunikasi kerja berlangsung 24/7. Gen Z yang ingin tampil adaptif dan profesional justru kerap terjebak dalam budaya “selalu online”. Akibatnya, muncul fenomena overwork yang tidak kasat mata seperti lelah mental, kehilangan fokus, hingga kehilangan makna hidup karena pekerjaan mendominasi ruang personal.

 

Budaya kerja digital memang membawa efisiensi, namun juga menciptakan ambiguitas waktu. Istilah seperti “kerja dari mana saja” telah berkembang menjadi “kerja kapan saja”, yang berujung pada hilangnya waktu istirahat yang sebenarnya. Tidak adanya batas fisik antara rumah dan kantor membuat pekerjaan menyusup ke dalam ruang pribadi. Fenomena psikologis seperti digital fatigue atau kelelahan digital menjadi realitas baru. Ketergantungan pada teknologi digital untuk semua bentuk komunikasi dan kolaborasi menyebabkan Gen Z merasa harus terus “terhubung”, semakin lelah dan terputus secara emosional. Banyak Gen Z mulai melakukan apa yang disebut quiet quitting, bekerja hanya sesuai deskripsi tugas tanpa melibatkan energi emosional.  Fenomena quiet quitting mencerminkan upaya perlindungan diri, sebagai bentuk menjaga batas emosional dalam bekerja karena mereka mulai menyadari pentingnya batas antara pekerjaan dan kehidupan pribadi. 



Digital Well-being : Kebutuhan Baru dalam Dunia Kerja

Bagi Gen Z, bekerja bukan sekadar mengejar prestasi atau posisi puncak. Mereka tidak terobsesi menjadi pimpinan atau menapaki tangga korporat seperti generasi sebelumnya. Survei Deloitte Global 2025 memperkuat hal ini hanya 6 persen Gen Z yang menjadikan posisi pimpinan sebagai tujuan utama karier mereka. Sebaliknya, mayoritas lebih memprioritaskan kesejahteraan mental, makna dalam pekerjaan, dan keseimbangan hidup yang nyata. Konsep digital well-being pun muncul sebagai kebutuhan baru dalam lanskap kerja yang terus berubah. Gen Z menyadari hidup mereka terlalu terikat layar, notifikasi, dan ekspektasi untuk selalu “online”. Bekerja dari rumah atau di coworking space bukan solusi jika kontrol atas waktu dan beban kerja tidak diikuti.

Survei Unmind (UK) tahun 2025 menunjukkan bahwa 46 persen Gen Z merasa terikat dengan pekerjaan dan sulit “switch-off”, dan 29 persen bahkan mempertibangkan resign karena kelelahan. Selain itu, 41 persen karyawan melaporkan kesulitan memisahkan waktu kerja dan pribadi, serta 44 persen sering memeriksa surel di luar jam. Pada akhirnya, fleksibilitas bkan lagi soal lokasi atau jam kerja, tetapi bagaimana pekerjaan tidak merusak kesehatan jiwa. Gen Z menuntut ritme kerja yang diprediksi, batas waktu dihargai, curi yang ramah kesehatan mental, dan budaya organisasi yang memberi ruang untuk hidup secara utuh. Mereka ingin tempat kerja yang memahami bahwa produktivitas jangka panjang hanya bisa dicapai jika kesejahteraan digital diutamakan.

 Namun, tuntunan ini tidak hanya menjadi PR bagi dunia industri, tetapi juga bagi dunia pendidikan, khususnya Technical and Vocational Education and Training  (TVET). Gen Z perlu dibekali lebih dari sekadar kompetensi teknis, mereka juga membutuhkan literasi digital yang sehat, keterampilan manajemen waktu, kemampuan mengatur batas antara pekerjaan dan kehidupan pribadi, serta kecakapan emosional dalam menghadapi tekanan kerja digital. Pendidikan vokasional saat ini tidak lagi cukup hanya mengajarkan software, coding, atau desain, tetapi juga perlu mengintegrasikan pelatihan tentang digital well-being, emotional intelligence, dan self-regulation dalam kurikulum. Lembaga TVET harus mampu merespons kebutuhan ini dengan merancang kurikulum yang tidak hanya menyiapkan lulusan untuk "siap kerja", tetapi juga "siap hidup" dalam ekosistem kerja digital. Ini bisa dilakukan dengan mengembangkan modul pelatihan berbasis proyek yang menekankan keseimbangan antara efisiensi dan etika kerja, atau melibatkan mentor industri yang dapat menanamkan nilai keseimbangan dalam praktik kerja harian. Dengan demikian, pendidikan vokasional bisa menjadi benteng pertama dalam membentuk generasi pekerja muda yang tidak hanya kompeten secara teknis, tetapi juga sehat secara digital dan mental.

Memahami cara Gen Z memaknai WLB bukan sekadar mengikuti tren generasi. Ini adalah langkah strategis bagi dunia kerja dan dunia pendidikan untuk tetap relevan. Dalam satu dekade ke depan, mereka akan menjadi tulang punggung tenaga kerja. Bila sistem pendidikan dan dunia kerja tidak mampu menyediakan lingkungan yang mendukung digital wellbeing, maka Gen Z akan memilih jalan sendiri, bukan karena mereka tidak tangguh, tetapi karena mereka sadar betul bahwa hidup bukan hanya untuk bekerja.



 


Kementerian Ketenagakerjaan Republik Indonesia © 2018 • Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang.