Artikel
Hery Sudarmanto
Pengantar Kerja Utama Kementerian Ketenagakerjaan
Tantangan1: Struktur Penduduk Indonesia didominasi Generasi Millinenial & Generasi Z
Berdasarkan hasil Sensus Penduduk 2020, BPS mencatat mayoritas penduduk Indonesia didominasi oleh generasi Z (yang lahir pada kurun 1997-2012) dan generasi milenial/Y (lahir pada kurun (1981-1996). Proponsi generasi Z, sebanyak 27,94 persen dari total populasi dan generasi milenial sobanyak 25,87 persen (" Angkatan Keria Produktif Melimpah" 2021). Sebagian besar dari dua generasi ini masuk dalam kategori usia produktil yang dapat menjadi peluang mempercepat pertumbahan ekonomi. Kondisi torsebut sclain merupakan peluang, juga menciptakan berbagai macam tantangan yang, harus dihadapi Pemerintah Indonesia untuk dapat menciptakan lapangan pekerjaan bag kedua generasi lersebul. dimana pada umumnya mereka meniliki karakteristik yang berbeda dalam bidang pekerjaan.
Secara demografis generasi Z dan generasi milenial merupakan "'pemegang saham" struktur usia terbesar di Indonesia, sehingga merekalah yang akan menjadi kunci keberhasilan dalam menghadapi revolust industri 4.0. Proporsi Generasi Z kedepan akan semakin meningkat jumlahnya mengingat setengah penduduk dari Generasi Z saat in belum memasuki usia produktif.
Dalam upaya mengoptimalkan peran generasi muda khususnva Generasi Z, para pemangku kebijakan perlu memperhatikan karakteristik dari Cenerasi Z sehingga potensi didalam diri mereka dapat berkembang dan dimanfaatkan secara optimal untuk pembangunan nasional.
Peran institusi atau lembaga dalam pengembangan kompetensi tenaga kerja menjadi penting untuk menghadapi tantangan dalam menyiapkan tenaga kerja yang sehat, memiliki keahlian yang memadai, cerdas, inovatif, terampil, kreatif serta adaptif. Salah satu lembaga tersebat adalah Balai Latihan Kerja (BLK) yang merupakan salah satu lembaga yang bertuiuan untuk menyediakan menyediakan pelatihan bagi angkatan kerja yang ingin memiliki keterampilan atau keahlian dibidang tertentu yang disesuaikan dengan kebutuhan pasar kerja. BLK harus semakin responsive terhadp trend teknologi, kebudayaan, kebutuhan, keadaan, harapan, identitas, lokalitas, dan keberagamaan anak muda termasuk pada persoalan geografis (Wildashah 2019). Salah satu strategi untuk menjembatani pekerja muda dalam menyesuaikan diri dengan industry 4.0 adalah melalui optimalisasi BLK dan metode Youth Centerd Approach. Youth Centered Approach adalah pendekatan untuk melibatkan, mendukung, dan menguatkan aspirasi juga preferensi talenda muda. Dengan pendekatan ini, BLK akan menenpatkan talenda muda sebagai pusat pembangunan, talenda muda sebagai klien utama dan mitra strategis pemerintah (Wildashah 2019). Industri yang maju perlu mengakomodir gagasan dari talenta muda. BLK sebagai sarana untuk meningkatkan kompetensi tenaga kerja harus memperhatikan kebutuhan, karakteristik, inovasi & kreativitas talenta muda (Atmadji 2017). Selain dapat mencetak talenda muda untuk industri, BLK juga diharapkan dapat mengambil peran dalam mencetak pengusaha muda, nelayan muda, petani muda, peternak muda dan beberapa sektor lainnya yang kurang diminati oleh generasi muda di pedesaan maupun perkotaan (Wildanshah 2019). Selain itu melalui transformasi BLK akan diperkuat proses pemantauan lulusan pelatihan melalui mekanisme survey kebekerjaan bagi mereka yang telah melaksanakan pelatihan di BLK (Imandiar 2020).
Upaya yang telah dilakukan oleh Kemnaker dalam mendorong tumbuhnya talenta muda inovatif dan kreatif adalah dengan memfasilitasi 'Innovation Room' bagi masyarakat yang ingin mengembangkan minat dan bakatnya pada industri digital. Innovation Room akan bertransformasi menjadi Innovation Hub. Dengan transformasi ini, Kemnaker tak hanva menyediakan fasilitas tapi juga berupaya mendorong kompetensi talenta muda melalui rintisan provek inovasi milenial berskala nasional. Upaya yang dimaksud meliputi pemetaan talenta muda nasional, pembentukan tim kerja nasional inovasi talenta muda, pengorganisasian talenta muda disektor-sektor strategis, penyelenggaraan course dan training untuk merespons future jobs, penyelenggaraan training untuk peningkatan kompetensi dibidang industry kreatif, serta masifikasi course untuk IT engineer guna memperbanyak developer muda Indonesia (Fitriani 2021).
Tantangan 2 : Profesi yang paling dicari dan paling hits di era industry 4.0
Dampak penting dari kehadiran teknologi digital bagi sektor ketenagakerjaan selain mengubah hubungan kerja meniadi lebih fleksibel adalah pergeseran permintaan terhadap pekerjaan-pekerjaan tertentu dan pergeseran keterampilan yang dibutuhkan.
World Economic Forum (WEF) pada akhir tahun 2020 merilis laporan "The Future Jobs" yang berisi
pekerjaan-pekerjaan yang diprediksi akan menjadi pekerjaan yang prospektif mulai tahun 2025 nanti. Menurut prediksi WEF, diperkirakan ada 85 juta pekerjaan yang selama ini ditangani manusia akan digantikan oleh mesin dan sebanyak 97 juta jenis pekerjaan baru akan muncul mulai tahun 2025. Pekerjaan dan peluang baru ini merupakan hasil adaptasi dari pembagian keria antara manusia, mesin, dan algoritma. World Economic Forum melansir beberapa profesi yang paling dicari oleh seluruh perusahaan pada tahun 2020 dan profesi vang paling hits di era industri 4.0 diantaranva (Bakki 2020; 2019b) adalah;
1. Teknik Informatika/Programmer; skill yang diperlukan dalam profesi ini berupa kemampuan pemrograman computer, pengembangan software, analis keamanan informasi dan sejenisnya
2. Data analyst; profesi yang membutuhkan skill untuk dapat memahami asal-usul data dan pendistorsiannya serta menganalisnya untuk keperluan perusahaan
3. Desainer produk; profesi teratas yang paling dibutuhkan ialah mereka yang memiliki kreativitas terutama dalam bidang komersial dan industry
4. Digital Marketing; dalam era digital profrsi marketing digital diperlukan untuk penjualan
5. Desain grafis; profesi yang diperlukan untuk mendesain web & promosi
6. Big data engineering; profesi yang dibutuhkan dalam rangka pengumpulan dan pengolahan data dalam jumlah besar dan melakukan pemantauan
7. AI Engineer; spesialis pekerjaan yang berhubungan dengan kecerdasan buatan
8. Sybersecutiry; pada era industry 4.0 perlindungan terhadap serangan via internet adalah sangat krusial sehingga profesi ini menjadi sangat penting.
Seiring dnegan pergeseran jenis pekerjaan dan keterampilan tersebut, maka tantangan utamanya adalah mempersiapkan para pekerja agar memiliki kompetensi yang sesuai perkembangan teknologi dan kebutuhan Dunia Usaha dan Dunia Industri (DUDI).
TANTANGAN 3: KOMPETENSI SUMBER DAYA MANUSIA YANG DIBUTUHKAN DI ERA INDUSTRI 4.0
Untuk meniawab kebutuhan pasar di era ekonomi digital dibutuhkan SDM terampil dan berpendidikan sehingga mereka diharapkan dapat menjadikan ekonomi kreatif sebagai tulang punggung perekonomian nasional (Fazry 2019). Pemerintah menargetkan Indonesia sebagai pusat ekonomi digital di Asia Tenggara pada 2020, dengan populasi dan produk domestik bruto (PDB) terbesar di Asia Tenggara, Indonesia merupakan pasar potensial bagi sektor ekonomi digital
(Widyanita 2016). PDB sektor industri kreatit menembus angka Rp. 1.000 trillun lebih dengan jumlah penduduk yang bekerja di sektor industri kreatif mencapai 17,43 juta

