Artikel
Lebih dari setengah jumlah penduduk Indonesia merupakan masyarakat dengan usia produktif. Lalu, sudah siapkah kita menghadapi tantangan dengan banyaknya tenaga kerja tersebut?
Kita sudah sering mendengar mengenai bonus demografi dan revolusi industri 5.0 yang saat ini sering digaungkan oleh media maupun pemerintah. Revolusi industri 5.0 merupakan era dimana teknologi semakin berkembang dengan hadirnya Artificial Inteligence (AI) dan teknologi robot lainnya. Dikutip dari data BPS pada tahun 2022, Indonesia memiliki jumlah penduduk usia produktif (15-64 tahun) sebanyak 190,98 juta jiwa. Jumlah ini mencapai lebih dari setengah jumlah penduduk Indonesia atau 69,25% dari total jumlah penduduk 275,77 juta jiwa.
Dengan demikian dapat dikatakan bahwa pemerintah memiliki surplus jumlah angkatan kerja. Surplus tenaga kerja ini dapat menjadi nilai lebih di Indonesia. Namun, surplus tenaga kerja tersebut dapat menjadi pisau bermata dua apabila pemerintah tidak dapat mengelolanya dengan baik. Bonus demografi dan revolusi industri 5.0 ini juga menjadi tantangan tersendiri bagi Pengantar Kerja di Indonesia.
Tantangan yang mengadang
Pada bagian ini akan dijabarkan tantangan-tantangan apa saja yang perlu disadari oleh pengantar kerja saat ini. Harapannya, tulisan ini dapat meningkatkan kesadaran bagi para pengantar kerja agar dapat memaksimalkan tugas perantaraan kerja yang merupakan salah satu tugas utama bagi pengantar kerja.
Pertama, kondisi pendidikan di Indonesia. Dilihat dari data Rata-Rata Lama Sekolah (RLS) penduduk Indonesia pada tahun 2022 yang diterbitkan BPS mencapai 9,08 tahun yang artinya penduduk Indonesia rata-rata hanya menamatkan pendidikan hingga kelas 9 SMP/sederajat. Hal ini dapat menjadi tantangan tersendiri bagi pengantar kerja khususnya yang berada di daerah, mengingat rata-rata masyarakat Indonesia yang berpendidikan rendah berada di desa atau daerah terpencil yang kurang akses terhadap pendidikan.
Kedua, keterbatasan kemampuan digital pekerja. Kemampuan digital di era revolusi industri 5.0 merupakan kemampuan penting untuk keperluan pekerjaan seperti proses pencarian kerja, melamar kerja, hingga penggunaan komputer dan alat teknologi lainnya sebagai alat bekerja. Keterbatasan kemampuan digital pekerja akan menjadi tantangan tersendiri karena dengan hadirnya teknologi AI pada era revolusi industri maka pencari kerja akan mudah tergantikan oleh teknologi AI yang cenderung lebih canggih dan murah.
Berdasarkan observasi penulis pada kelas Orientasi Pra Pemberangkatan bagi Pekerja Migran Indonesia yang akan diberangkatkan ke negara penempatan di Balai Pelayanan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (BP3MI) di sejumlah daerah, khususnya di luar Jawa, para Pekerja Migran Indonesia yang ada, meskipun memiliki ponsel pribadi, namun masih kesulitan dalam mengoptimalkannya dalam kegiatan konstruktif.
Ketiga, kapasitas pekerja dalam memahami berbagai dokumen. Penulis menemukan beberapa Pekerja Migran Indonesia yang masih kesulitan dalam memahami isi Perjanjian Kerja karena kebanyakan dari Pekerja Migran Indonesia adalah lulusan pendidikan rendah setara Sekolah Dasar atau Sekolah Menengah Pertama. Dengan rendahnya pendidikan tersebut, maka tidak mengherankan apabila pekerjaan low skilled masih menjadi pekerjaan yang paling banyak menyerap tenaga kerja ke luar negeri.
Kelima, tantangan lain bagi Pengantar Kerja adalah untuk dapat melakukan kegiatan job matching agar tenaga kerja yang ada dapat terserap lebih baik sesuai dengan skill yang dimiliki. Artinya penting bagi Pengantar Kerja, khususnya yang berada di daerah memiliki database supply and demand ketenagakerjaan di daerahnya masing-masing.
Berdasarkan observasi yang dilakukan penulis, saat ini, belum banyak instansi dinas ketenagakerjaan di daerah yang memiliki database supply dan demand ketenagakerjaan yang dapat diakses langsung oleh publik. Penulis lalu mencoba mengunjungi situs Dinas Ketenagakerjaan Provinsi Jawa Tengah serta situs Dinas Ketenagakerjaan Provinsi Jawa Barat. Pada situs milik Dinas Ketenagakerjaan Provinsi Jawa Tengah belum terdapat data potensi tenaga kerja yang dapat dilihat publik.
Sedangkan pada situs milik Dinas Ketenagakerjaan Provinsi Jawa Barat, sudah dilengkapi dengan data pencari kerja berdasarkan tingkat pendidikan yang dapat dimanfaatkan oleh Pemberi Kerja untuk memetakan calon pekerja yang dibutuhkan. Namun, Dinas Ketenagakerjaan Provinsi Jawa Barat justru kurang mempromosikan bursa kerja sebagai alat pencarian kerja bagi Pemberi Kerja.
Keenam, ketimpangan antara jumlah tenaga kerja dengan jumlah lowongan kerja di dalam negeri. Dikutip dari dataindonesia.id, BPS mencatat jumlah lowongan kerja yang terdaftar di Indonesia pada tahun 2022 mencapai 59.276. Hal ini tentu sangat berbanding dengan bonus demografi kita yang mencapai 190 juta jiwa. Pandemi COVID-19 turut menyumbang penurunan lowongan kerja yang menurun dari tahun 2021 sebanyak 507.799 lowongan. Artinya ada penurunan jumlah lowongan kerja dari tahun 2021 ke tahun 2022 sebanyak 88,33%.
Mengingat keterbatasan jumlah lowongan kerja di Indonesia, maka pengantar kerja dapat mempertimbangkan untuk memperluas kesempatan kerja ke luar negeri untuk menyerap tenaga kerja di Indonesia. Pada saat ini, terdapat beberapa negara yang mengalami aging population yang memerlukan suplai tenaga kerja karena kekurangan penduduk usia produktif seperti contohnya negara Jepang. Negara Jepang dapat menjadi salah satu tujuan bagi Pekerja Migran Indonesia yang layak diperhitungkan khususnya bagi pencari kerja yang memiliki latar belakang kesehatan karena saat ini sudah ada program kerjasama pemerintah di bidang kesehatan untuk profesi perawat dan caregiver.
Negara lain yang dapat diperhitungkan oleh Pengantar Kerja dalam memberikan solusi bagi para pencari kerja yaitu di antaranya Korea Selatan dan Taiwan yang saat ini juga sudah memiliki kerjasama dengan pemerintah Indonesia dalam hal penempatan Pekerja Migran Indonesia. Untuk Korea Selatan memiliki peluang kerja di bidang industri manufaktur perkapalan dan untuk Taiwan di bidang manufaktur dan pertanian yang mulai dirintis tahun ini. Tenaga kerja terampil dan berkualifikasi tentu dibutuhkan untuk mengisi pasar kerja tersebut.
Rekomendasi
Memperhatikan berbagai tantangan tersebut, maka diusulkan beberapa rekomendasi yang dapat diajukan. Pertama, Pengantar Kerja perlu lebih banyak turun ke lapangan agar dapat memaksimalkan fungsi perantaraan kerjanya dan tentunya agar lebih banyak tenaga kerja sebagai bonus demografi yang terserap ke dalam pasar kerja. Pengantar Kerja juga perlu melakukan analisis terhadap jumlah pekerja dan skill yang dimiliki oleh pencari kerja di daerahnya.
Kedua, Pengantar Kerja, khususnya di daerah, dapat mengedukasi pencari kerja mengenai informasi lowongan kerja di daerahnya, baik melalui bursa kerja di situs resmi maupun melalui pelayanan langsung di kantor.
Ketiga, Pengantar Kerja perlu lebih aktif bekerja sama dengan lembaga-lembaga pelatihan baik lembaga pelatihan informal maupun lembaga pelatihan digital untuk dapat bekerjasama dengan pemerintah menyelenggarakan pelatihan kerja. Hal ini terkhusus bagi pencari kerja di daerah yang sangat membutuhkan lembaga pelatihan infomal mengingat pendidikan formal saja terkadang kurang mencukupi untuk dapat terserap ke pasar kerja atau industri yang masih membutuhkan tenaga kerja kasar dan padat karya.
Keempat, Pengantar Kerja harus jeli melihat peluang kerja di bidang digital yang saat ini sangat dibutuhkan pada era revolusi industri 5.0 ini. Pengantar Kerja juga harus memahami dunia digital dan kondisi generasi saat ini (gen z misalnya). Apalagi, dengan hadirnya revolusi industri 5.0, maka jenis pekerjaan di bidang digital semakin beragam. Untuk itu, pelatihan berbasis digital gratis yang saat ini sudah banyak diselenggarakan oleh pemerintah perlu ditingkatkan dan disosialisasikan.
Kelima, Pengantar Kerja harus selalu beradaptasi dengan perkembangan jaman dan kondisi ketenagakerjaan di Indonesia. Pengantar Kerja pun juga harus selalu membekali dirinya dengan ilmu dan kemampuan yang selalu ditingkatkan agar dapat terus beradaptasi sebab pada dasarnya tantangan akan selalu ada, baik di era bonus demografi maupun era revolusi industri 5.0 dan era lainnya.
Terakhir, semoga Pengantar Kerja di seluruh Indonesia tetap dapat menjalankan tugas mulia membantu orang-orang untuk memperoleh pekerjaan dan penghasilan sehingga mengurangi angka pengangguran di Indonesia sekaligus meningkatkan roda perekonomian negeri ini.

