Remitasi dan Peningkatan Perlindungan Ekonomi Pekerja Migran Indonesia

Remitasi dan Peningkatan Perlindungan Ekonomi Pekerja Migran Indonesia

Teguh Bachtiar
Pengantar Kerja Ahli Muda

 

Informasi mengenai adanya pekerjaan dan upah yang lebih baik di negara lain serta adanya keinginan untuk meningkatkan kesejahteraan keluarga menyebabkan kecenderungan seseorang untuk bekerja diluar negeri. Kurangnya kesempatan kerja di dalam negeri menjadi salah satu faktor migrasi tenaga kerja ke negara lain. Meskipun pekerja migran yang bekerja di negara tujuan biasanva mendapatkan pekerjaan paling tidak dinginkan dan mendapatkan upah terendah di negara tujuan tersebut, namun penghasilan mereka jauh lebih tinggi dari apa yang mereka mungkin bisa mendapatkan di negara asal (Semyonov, 2005). Berdasarkan data Bank Dunia, terdapat sekitar 9 juta penduduk Indonesia yang, bekerja di luar negeri sebagai pekerja migran, angka ini setara dengan 7 persen dari total angkatan kerja Indonesia. Menurut Todaroarus migrasi berlangsung sebagai tanggapan terhadap adanya perbedaan pendapatan di negara tujuan, pendapatan yang dimaksud bukanlah penghasilan aktual, melainkan penghasilan yang diharapkan. Pekerja migran melihat pekerjaan di luar negeri sebagai solusi sementara untuk mengatasi masalah ekonomi di negara asal dan merupakan salah satu cara untuk membantu anggota rumah tangga yang ditinggalkan dinegara asal. Oleh sebab itu, sebagian besar pekerja migran yang berhasil memperoleh pekerjaan di negara tujuan menyisihkan sebagian pendapatan yang diperoleh untuk dikirimkan ke negara asal dalam bentuk uang/ barang atau biasa disebut remitansi.

Menurut data Migration and Remittances Factbook tahun 2016 yang diterbitkan Bank Dunia, para pekerja migran di dunia mengirim penghasilan kembali ke keluarga mereka di negara berkembang mencapai US $ 441 miliar, sekitar tiga kali lipat jumlah bantuan resmi ke negara-negara berkembang. Sementara, penerimaan remitansi Indonesia menyusut 17,3% pada 2020. Ini terjadi utamanya karena arus remitansi dari Arab Saudi dan Malaysia ke Indonesia mengalami penurunan masing-masing 21,3% dan 16,8%.

Alhasil, Indonesia hanva menerima dana remitansi sebesar US $ 9,7 miliar pada tahun 2020, atau sebesar 0,89 persen terhadap PDB Indonesia, turun dari 1 persen pada tahun 2019 atau sebelum pandemi. Sempat meredup saat pandemi Covid-19, remitansi pekerja migran diharapkan kembali tumbah seiring terkendalinya pandemi. Hal ini bisa terlihat dari laporan Bank Indonesia pada Kuartal III tahun 2021, pengiriman remitansi tumbuh sebesar 2,04 persen dibanding periode yang, sama pada tahun sebelummya (vear-on-year). Hal ini sejalan dengan kebijakan pemerintah melalui Kementerian Ketenagakerjaan yang secara bertahap membuka kembali penempatan pekerja migran ke berbagai negara.

Laporan Bank Dunia mencatat, bahwa Pekerja migran Indonesia dapat memperoleh penghasilan sampai enam kali upah mereka di dalam negeri, dan bagi 70 persen pekerja migran, bekerja di luar negeri memberikan pengalaman positif yang membantu mereka meningkatkan kesejahteraannya. Selain itu, migrasi juga memberikan peluang kepada pekerja migran untuk memperoleh keterampilan. Remitansi menurut Curson (1981) mengalami perluasan definisi tidak hanya uang dan barang tetapi keterampilan dan ide juga digolongkan sebagai remilansi bagi daerah asal.

Motivasi Pengiriman Remitansi yang dikirim secara rutin dapat menjadi sumber pendapatan bagi keluarga pekerja migran di daerah asal untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari hari. Pelaksanaan remitansi dan besamva jumlah dana yang dikirim oleh pekerja migran antara satu dengan yang lainnya berbeda -beda tergantung pada factor-faktor yang melatarbelakangi motivasi pekerja migran itu sendiri.

Seiring dengan perkembangan teknologi yang semakin anju, pengiriman remitansi lebih etisien, tidak memerlukan birokrasi, dan biaya transaksi sangat rendah. Pengiriman remintansi biasanya ditujukkan kepada rumah tangga yang lebih membutuhkan dan dapat diastunsikan bahwa remitansi ini membuat rumah tangga lebih baik. Menurut Batson, altruisme adalah keadaan motivasional seseorang yang bertujuan meningkatkan kesejahteraan orang lain. termasuk juga respon vang menuanbulkan perasaan posilal seperti empala alau keinginan


Kementerian Ketenagakerjaan Republik Indonesia © 2018 • Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang.