Artikel
Heru Prasetyo, S.Kom, M.Si
Pengantar Kerja Ahli Muda
Data Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Jawa Barat menunjukkan peningkatan angka pengangguran di Kota Bekasi. Pada 2019, tercatat persentase pengangguran di Kota Bekasi sebesar 8,30 persen. Namun data terkini menyebutkan angka pengangguran menjadi 10,68 persen atau naik sekitar 2,8 persen. Pemerintah Kota Bekasi mengakui peningkatan angka pengangguran disebabkan oleh pandemi Covid-19. Di samping itu, produksi juga menurun karena daya beli masyarakat melemah drastis. Hal itu mengakibatkan beberapa sektor usaha harus memberhentikan karyawannya atau PHK. Selain menjadi wilayah permukiman, Kota Bekasi juga berkembang sebagai kota perdagangan, jasa, dan industri. Sektor industri dan perdagangan merupakan sektor yang diunggulkan. Ada banyak industri kecil yang berkembang dan menembus pasar internasional. Salah satu contohnya, perdagangan ikan hias yang menjadi komoditi terbesar di Asia Tenggara. Penjualan ikan hias itu telah diekspor ke berbagai negara seperti Australia, Belanda, dan Selandia Baru. Kawasan perindustrian skala besar yang ada di Bekasi juga menarik investasi pebisnis lokal maupun internasional. Dinas Perindustrian dan Perdagangan berkomitmen dalam memfasilitasi para investor yang akan masuk ke Kota Bekasi.
Apakah ini data tahun 2020?
Data dari mana?
Masalah Tenga Kerja di Bekasi
Salah satu masalah pokok yang dihadapi
Pemerintah Kota Bokasi adalah tingginya angka pengangguran. Hal itu berdampak langsung maupun tidak langsung terhadap kemiskinan, kriminalitas, dan masalah-masalah sosial lainnya yang juga semakin meningkat. Permasalahan tenaga kerja menjadi semakin akut dan kompleks karena besarnya jumlah angkatan kerja, mengalimya arus migrasi, serta dampak krisis ekonomi yang berkepanjangan. Pengangguran menjadi masalah yang krusial khususnya di negara-negara berkembang seperti di Indonesia.
Negara berkembang sering kali dihadapkan pada tingginya angka pengangguran karena sempitnya lapangan pekerjaan dan besarya jumlah penduduk. Kurangnya lapangan pekerjaan disebabkan karena faktor kelangkaan modal untuk berinvestasi. Hal ini bisa diakibatkrisis finansial yang memporak- porandakan perckonomian nasional. Banyak pengusaha yang bangkrut karena dililit hutang bank atau hutang ke rekan bisnis. Akibatnya, begitu banyak karyawan yang terpaksa di PHK oleh perusahaan sehingga terjadi ledakan penganguran dalam waktu yang relatif singkat.
Dengan perekonomian yang hanya tumbuh sekitar 3,5 persen sampai dengan 4 persen maka tenaga kerja yang bisa diserap hanya sekitar 1,3 juta orang dari tambahan angkatan kerja sekitar 2,7 juta orang. Sisanya menjadi tambahan pengangguran terbuka. Total pengangguran diperkirakan akan melampaui 10 juta orang. Jika masalah pengangguran dibiarkan berlarut-larut, maka akan mendorong krisis sosial, yang tidak hanya menimpa para pencari kerja yang baru lulus sekolah, melainkan juga orang tua yang kehilangan pekerjaan.
Salah satu faktor tingginya angka pengangguran adalah terlampau banyak tenaga kerja yang diarahkan ke sektor formal. Ketika mereka kehilangan pekerjaan di sektor formal, mereka kebingungan dan kurang berkompeten menciptakan pekerjaan sendiri di sektor informal. Hal itu juga terjadi karena kelemahan dari sistem pendidikan yang kurang memupuk profesionalisme seseorang dalam berkarir atau bekerja. Saat ini kurikulum pendidikan di Indonesia mayoritas menekankan pada teori daripada praktik. Rendahnya kualitas tenaga kerja terdidik juga disebabkan kesalahan persepsi mengenai gelar tanpa membenahi kemampuan di bidang yang ditekuni.
Permasalahan pengangguran ini harus menjadi titik fokus bagi Pemerintah Kota Bekasi pada masa sekarang. Jika permasalahan ini tidak segera ditanggulangi akan mempengaruhi stabilitas keamaan dan perekonomian.Pengangguran berpotensi menimbulkan kerawanan berbagai kriminal dan gejolak sosial, politik, dan kemiskinan. Sebelum membahas strategi menekan pengangguran di Kota Bekasi, penulis mencoba menganalisis tiga permasalahan utama sebagai berikut:
Lapangan pekerjaan yang tersedia terbatas
Setiap tahun, jumlah angkatan kerja baru masuk dunia kerja kurang lebih 2 juta sampai dengan 2,5 juta orang, Jumlah tersebut berbanding terbalik dengan penyediaan lapangan pekerjaan yang ada di kawasan-kawasan industri. Sehingga tenaga kerja yang masuk ke dunia karier akan bersaing untuk memperebutkan lowongan pekerjaan yang ada. Tenaga kerja yang kompeten akan menduduki lowongan pekerjaan yang tersedia. Sedangkan tenaga kerja yang baru masuk pasar kerja rata-rata minim dengan kompetensi yang dibutuhkan oleh dunia kerja. Pemerintah Kota Bekasi diharapkan membuat satu kebijakan yang akan mendorong penciptaan lapangan pekerjaan baru sehingga banyak menyerap tenaga kerja, khususnya di kawasan-kawasan industri.
Ketidaksesuaian antara tingkat keterampilan tenaga kerja dan kebutuhan pasar kerja
Tingkat keterampilan tenaga kerja yang masuk ke dunia kerja pada umumnya tidak mempunyai kompetensi sehingga lowongan yang tersedia tidakbisa ditempatii. Hal ini terjadi dikarenakan antara kompetensi dan kebutuhan dunia kerja tidak link and match. Untuk mengatasi permasalahan ini maka lulusan SMK, SMA dan Perguruan Tinggi yang belum bisa masuk kerja harus mengikuti program-program pelatihan yang dilaksanakan oleh balai latihan kerja pemerintah maupun balai latihan kerja swasta.
Dengan mengikuti program pelatihan yang sesuai dengan kebutuhan pasar kerja, diharapkan peserta pelatihan dapat langsung bekerja di perusahaan swasta yang telah bekerja sama dengan Balai Latihan Kerja tersebut. Dengan terlaksananya program pelatihan, maka angka pengangguran bisa ditekan semaksimal mungkin. Tenaga kerja yang sudah mengikuti program pelatihan kerja akan mempunyai kompetensi yang sesuai dengan kebutuhan pasar kerja dan siap masuk ke dunia kerja.
Minat menjadi seorang wirausaha masih rendah
Pemerintah telah menetapkan kebijakan tentang perluasan kesempatan kerja yaitu Peraturan Pemerintah Nomor 33 Tahun 2013 Tentang Perluasan Kesempatan Kerja. Namun masih rendahnya minat lulusan SMK, SMA, Diploma, dan Strata untuk menjadi seorang wirausaha baru. Hal ini disebabkan karena pada saat mereka belajar tidak dibekali secara khusus pelajaran kewirausahaan. Ditambah lagi mereka tidak punya pengetahuan sektor apa yang akan dijadikan bidang usaha. Selain itu, mereka tidak punya permodalan dan belum memahami cara memasarkan produk.
Salah satu program kewirausahaan yang banyak melahirkan start up baru yaitu melalui program inkubasi bisnis. Dalam program inkubasi bisnis, para peserta berasal dari para wirausaha pemula yang telah menjalankan usahanya namun belum berkembang.
Dengan merangkul para wirausaha tersebut diharapkan akan lahir wirausaha baru yang tumbuh dan berkembang. Peserta inkubasi bisnis akan diberikan pembinaan, pendampingan, dan pengembangan usaha mulai dari pelatihan teknis, pelatihan manajerial, permodalan, uji coba usaha, pendampingan, dan dicarikan untuk mendapatkan permodalan dari bank yang menyelenggarakan program KUR.
Dengan dijalankan program kewirausahaan melalui inkubasi bisnis diharapkan akan lahir wirausaha baru yang dapat menciptakan lapangan pekerjaan untuk mendukung mengurangi pengangguran.
Penciptaan lapangan pekerjaan baru
Dalam rangka penciptaan lapangan pekerjaan baru, Pemerintah Kota Bekasi sebaiknya membuat suatu kebijakan agar dibangun kawasan industri yang mengacu kepada kebutuhan dunia usaha dan industri. Selain itu, kawasan industri perlu memperhatikan potensi yang ada. Dengan adanya kebijakan tersebut, diharapkan akan tercipta lapangan pekerjaan baru bagi para pencari kerja yang tinggal di kawasan industri tersebut. Maka Pemerintah Kota Bekasi, membangun kawasan industri di Kota Bekasi seperti pabrik otomotif, pabrik kertas, pabrik produsen alat dapur, pabrik elektrik dan mekanik, dan lain-lain dapat membuka lapangan usaha baru. Pekerja yang baru masuk ke pasar kerja akan berusaha semaksimal mungkin untuk menyiapkan kompetensi. Dengan tumbuhnya kawasan industri maka akan tercipta lapangan pekerjaan baru yang sesuai dengan kebutuhan pasar atau potensi yang ada di Kota Bekasi. Selanjutnya, diharapkan angka pengangguran akan berkurang.
Keterampilan tenaga kerja perlu ditingkatkan
Balai Latihan Kerja pemerintah maupun swasta harus menyiapkan program pelatihan yang sesuai dengan kebutuhan pasar kerja. Program Pelatihan di Balai Latihan Kerja pemerintah maupun swasta dengan mengacu pada kebutuhan pasar kerja yaitu dengan melihat kira-kira apa yang pada saat ini yang banyak dibutuhkan di dalam dunia kerja. Contohnya pelatihan otomotif, elektronik, desain grafis, programmer dan lain-lain.
Alumni peserta program pelatihan di Balai Latihan Kerja akan menghasilkan tenaga kerja yang kompeten sesuai dengan kebutuhan pasar kerja. Selama peserta mengikuti program pelatihan, mereka akan ditingkatkan hard skill maupun soft skill. Begitu mereka terjun ke dunia kerja, lulusan program pelatihan di Balai Latihan Kerja pemerintah atau Balai Latihan Kerja swasta sudah siap dengan pengetahuan dan keterampilannya sesuai dengan kebutuhan pasar kerja.
Mendorong agar pencari kerja mau menjadi seorang wirausaha baru
Indonesia perlu melahirkan wirausaha-wirausaha baru yang mempunyai pengetahuan, keterampilan dan motivasi yang kuat untuk menjadi seorang wirausaha baru. Salah satu program yang akan mendorong lahirnya wirausaha baru yaitu program inkubasi bisnis.. Pelatihan inkubasi bisnis yang diajarkan antara lain; (a). pelatihan teknis di mana seorang wirausaha baru akan diajarkan bagaimana membuat suatu barang dari barang mentah sampai menjadi barang jadi, (b). pelatihan manajerial seorang wirausaha akan diajarkan bagaimana mengatur, merencanakan pemasaran suatu barang dengan benar, (c) pendampingan bagi seorang wirausaha baru yang akan mulai melakukan suatu usaha baru..Dengan adanya peserta pelatihan inkubasi bisnis diharapkan akan menjadi wirausaha baru yang tumbuh dan berkembang serta mampu bersaing di dalam menciptakan wirausaha-wirausaha baru yang dapat menciptakan lapangan pekerjaan baru.
Kesimpulan
1. Pengangguran dapat ditekan jika seluruh stakeholders terkait terlibat di dalam penyusunan program perluasan penciptaan lapangan kerja baru, yaitu dengan berkoordinasi serta berkolaborasi di dalam penciptaan lapangan pekerjaan agar terbuka lowongan pekerjaan bagi para pencari kerja di Kota Bekasi.
2. Fungsi Balai Latihan Kerja di pemerintah dan swasta yang ada di Kota Bekasi dimaksimalkan dalam rangka menghasilkan tenaga kerja terampil yang sesuai dengan kebutuhan pasar kerja, yaitu dengan melaksanakan program-program pelatihan kerja yang sesuai dengan permintaan pasar kerja yang tepat waktu.
3. Pengangguran adalah problem yang terus bertambah dari tahun ke tahun. Persoalan pengangguran bukan sekedar bertumpu pada makin menyempitnya dunia kerja, tetapi juga rendahnya kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) yang kita punya.
4. Beberapa masalah lain yang juga berpengaruh terhadap ketenagakerjaan adalah masih rendahnya arus masuk modal asing, stabilitas keamanan, perubahan iklim yang menyebabkan pemanasan global yang menjadikan krisis pangan di dunia, harga minyak dunia naik, pasar global dan berbagai perilaku birokrasi yang kurang kondusif atau cenderung mempersulit bagi pengembangan usaha, serta tekanan kenaikan upah buruh di tengah dunia usaha yang masih lesu.
5. Seluruh pemangku kepentingan harus secara masif mendorong agar program kewirausahaan dijalankan dengan melibatkan seluruh masyarakat untuk menciptakan wirausaha-wirausaha baru. Mereka dibekali melalui program pelatihan inkubasi bisnis ataupun program pelatihan wirausaha lainnya, yang dapat menciptakan start up baru guna menjadikan negara Indonesia lebih maju.
Di samping itu, faktor-faktor seperti kemiskinan, ketidakmerataan pendapatan karyawan, pertumbuhan ekonomi dan stabilitas politik juga sangat berpengaruh terhadap ketenagakerjaan di Bekasi. Semua permasalahan hal di atas tampaknya sudah dipahami oleh pembuat kebijakan.

