Artikel
Sepuluh orang Pengantar Kerja yang lolos seleksi dan empat delegasi dari Kementerian Ketenagakerjaan Republik Indonesia berkesempatan mengikuti Summer Training di Jepang pada tahun 2024. Selama sepekan empat belas orang tersebut melakukan kunjungan ke Jepang untuk belajar mengenai praktik terbaik dari Pelayanan Ketenagakerjaan Publik yang dilaksanakan oleh Pemerintah Jepang. Summer Training Japan 2024 merupakan praktik lanjutan setelah pelaksanaan pembelajaran teori untuk meningkatkan kompetensi yang sebelumnya diikuti oleh 1.600 Pengantar Kerja di seluruh Indonesia secara hybrid. 490 orang telah bergabung menjadi anggota Community of Practices (CoP) Pengantar Kerja 2024 dalam Whatsapp Group untuk untuk saling berbagi pengetahun, informasi, diskusi, komunikasi, dan belajar praktik terbaik dari Pelayanan Ketenagakerjaan yang dilaksanakan di Jepang.
Japan International Cooperation Agency (JICA), yang bekerja sama dengan Kementerian Ketenagakerjaan dalam penyelenggaraan kegiatan ini, berharap teori pelayanan tersebut dapat dipelajari secara langsung. Hal ini bertujuan untuk mendukung pelaksanaan Summer Training Japan 2024. Kegiatan inti dilaksanakan tanggal 5-9 Agustus 2024, mengunjungi beberapa lokasi yaitu Kementerian Kesehatan, Tenaga Kerja, dan Sosial atau MHLW (The Ministry of Health, Labour and Welfare) Jepang, kemudian dilanjutkan dengan kunjungan ke Hello Work untuk mempelajari langsung fasilitas pendamping dan implementasi terpadu layanan ketenagakerjaan, serta lokasi lainnya untuk memahami sistem layanan ketenagakerjaan di Jepang. “Kehadiran delegasi Indonesia ini, untuk belajar pelayanan ketenagakerjaan terbaik di Jepang, agar dapat diterapkan oleh Pengantar Kerja nanti di Indonesia”, ungkap Dr. Nora Kartika yang pada saat itu menjabat sebagai Direktur Bina Pengantar Kerja.
Delegasi Indonesia beranjak dari penginapannya di kawasan Kawasaki menuju Tokyo, kawasan Pemerintahan Jepang, Kasumigaseki. Kawasan tersebut merupakan tempat beberapa pusat pemerintahan Jepang, termasuk MHLW Jepang. Menggunakan seragam kebesaran Pengantar Kerja yang berwarna putih dongker, empat belas orang tersebut menginjakan kaki di kantor bangunan bertingkat MHLW. Para delegasi langsung di ajak untuk menuju ruang pertemuan dan beberapa orang pun menyambut dan membungkukan badan sebagai tanda menyapa disertai menuturkan kata “Ohayo” serta selamat datang. Mereka memuji baju seragam yang digunakan, sangat berwibawa dan bagus ungkapnya. Sambutan hangat dan ramah dari perwakilan MHLW tersebut menghangatkan pertemuan antar dua negara ini, Indonesia dan Jepang.
Asisten Menteri bagian Tenaga Kerja International, Mr Akiyama memberikan sambutan kepada delegasi Indonesia dengan sangat antusias dan menjelaskan fungsi dari Kementerian bagian Tenaga Kerja sebagai pembuatan kebijakan seperti merumuskan undang-undang, peraturan, dan standar yang menjadi acuan bagi semua pihak terkait. Praktek dan fungsi pelaksanaan didelegasikan kepada unit atau organisasi yang bertanggung jawab langsung atau tidak langsung kepada MHLW. Seperti pelayanan ketenagakerjaan Publik yang dilaksanakan oleh Hello Work, pelatihan oleh negara untuk peningkatan kompetensi pencari kerja oleh Chiba Politeknik dan sebagainya yang masih satu ke satuan sistem. Dengan mendelegasikan tugas operasional kepada berbagai organisasi yang lebih khusus, memungkinkan MHLW untuk fokus pada aspek strategis dan kebijakan jangka panjang.
Layanan Ketenagakerjaan Publik Jepang, Hello Work
Layanan ketenagakerjaan publik Jepang memiliki sistem pendukung unik, yang dikenal dengan nama “Hello Work”. Hello Work sebagai layanan pemerintah dijalankan oleh Biro Jaminan Ketenagakerjaan, di bawah MHLW Jepang yang berfokus pada pelayanan bagi pencari kerja yang kesulitan mencari kerja, penyalur kerja ke lembaga swasta yang kekurangan tenaga kerja, serta sebagai lembaga yang menjamin pemenuhan hak kerja yang diatur dalam undang-undang dasar Jepang. Delegasi Indonesia menyelami dunia ketenagakerjaan Negeri Sakura melalui program Summer Training Japan tersebut dengan kunjungan langsung ke salah satu kantor Hello Work, yakni di Kawasaki.
Delegasi memahami tugas dari pegawai Hello Work yang tak jauh berbeda dengan pengantar kerja di Indonesia, memberikan pelayanan kepada pencari kerja maupun pemberi kerja dengan yang menjadi kunci utama dalam layanan sesuai dengan kebutuhan. Dukungan yang diberikan pun sangat beragam, mulai dari konseling karir, pelatihan kompetensi, hingga bantuan dalam menyusun CV dan mempersiapkan wawancara kerja. Dengan pendekatan yang personal ini, Hello Work tidak hanya membantu mengurangi angka pengangguran, tetapi juga meningkatkan kualitas tenaga kerja di Jepang. Dalam kunjungan langsung ke Hello Work ini, delegasi Indonesia pun dapat pun menyaksikan langsung bagaimana para staf Hello Work dengan sigap membantu para pencari kerja.
Hello Work juga berkolaborasi dengan Badan Administratif Independen, Japan Organization for Employment of the Elderly, Persons with Disabilities and Job Seeker (JEED). JEED memastikan semua individu yang bersedia bekerja, termasuk pemuda, wanita, lansia, dan penyandang disabilitas mewujudkan potensinya di dunia kerja. Dengan slogan “Jadilah Diri Sendiri dan Temukan Pekerjaan, Bersama”, JEED berpartisipasi aktif mempromosikan kelompok rentan dalam pasar kerja. Hello Work dan JEED telah memfasilitasi inklusi di dunia kerja Jepang termasuk memastikan kesiapan para penyandang disabilitas menghadapi dunia kerja. Hello Work secara aktif memberikan pelatihan teknis, dukungan psikologis dan bimbingan karir. JEED menugaskan konselor kejuruan yang berpengalaman siap membantu penyandang disabilitas untuk menemukan pekerjaan yang sesuai dengan minat dan kemampuan. Petugas dari JEED akan mengunjungi tempat kerja untuk memberikan dukungan langsung kepada penyandang disabilitas dan pemberi kerja. Termasuk pendampingan bagi penyandang disabilitas mental yang membutuhkan dukungan ekstra dalam beradaptasi dengan lingkungan kerja yang baru. Sistem retribusi dan hibah untuk mempekerjakan penyandang disabilitas menjadi solusi inovatif untuk mendukung lingkungan kerja yang mempekerjakan penyandang disabilitas dan lebih inklusif.
Pendekatan layanan kepada masyarakat juga dilaksanakan oleh Hello Work berkolaborasi dengan Pemerintah Daerah. Salah satunya adalah distrik Tsurumi di Yokohama, di mana Jepang memiliki program spesialis bantuan ketenagakerjaan. Hal menarik yang diamati delegasi Indonesia pada program tersebut adalah sinergi yang kuat antara spesialis bantuan ketenagakerjaan. Yakni adanya layanan “Job Spot”, sebuah pusat layanan yang menyediakan dukungan ketenagakerjaan yang lebih intensif. Di sini, para pencari kerja bisa mendapatkan bantuan secara yang lebih personal karena setiap individu memiliki kebutuhan yang unik sehingga membutuhkan pendekatan masalah yang berbeda-beda. Hasil dari kolaborasi ini sangat mengesankan dari pemasangan mesin pencarian kerja, penugasan konsultan atau navigator di Job Spot dan penugasan spesialis bantuan ketenagakerjaan dari Kantor Kesejahteraan. Data menunjukkan bahwa tingkat penyerapan tenaga kerja di Job Spot jauh lebih tinggi dibandingkan dengan pusat layanan ketenagakerjaan pada umumnya. Kerja sama antara sektor kesejahteraan dan tenaga kerja memberikan dukungan yang lebih rinci terutama bagi penduduk Jepang yang mengalami kesulitan ekonomi. Pemanfaatan ini telah menghasilkan tingkat penyerapan tenaga kerja di Tsurumi pada Maret 2024 telah mencapai angka 61,6% dengan adanya Job Spot, dan menyumbang angka sebesar 17,9% untuk penempatan tenaga kerja di seluruh Hello Work Kanagawa.
Pendampingan oleh Pengantar Kerja
Pemerintah Jepang berperan sangat aktif memfasilitasi penempatan kerja. Mereka tidak hanya menyediakan data pasar kerja yang akurat, tetapi juga memberikan pelatihan dan konseling yang komprehensif kepada pencari kerja. Hal ini dapat menjadi pelajaran besar yang diambil oleh seluruh pejabat pengantar Kerja di Indonesia. Setiap pencari kerja yang mendapatkan layanan Hello Work akan didampingi oleh seorang pendamping atau konselor yang akan membantunya mendapatkan pekerjaan yang tepat. Konsultasi pun dilakukan dengan secara rutin dengan juga pembuatan rencana kerja, terdapat juga pelayanan lainnya seperti membantu mengoreksi riwayat hidup serta surat lamaran, wawancara atau simulasi kerja, hingga test GATB (General Aptitude Test Battery) untuk mengetahui bakat dan minat pencari kerja. Saran dan arahan untuk peningkatan kompetensi melalui pelatihan juga diberikan oleh konselor.
Tugas konselor mirip dengan tugas Pengantar Kerja untuk jembatani link and match antara dunia pendidikan dan kerja. Para petugas ini tak hanya sekadar mencocokkan lowongan pekerjaan dengan kandidat, namun juga berperan sebagai mentor, membantu pencari kerja menggali potensi terpendam, mengasah keterampilan, hingga menemukan ‘jodoh’ profesi yang sesuai merupakan fungsi marwah yang perlu diterapkan. Sehingga Pengantar Kerja sebagai garda terdepan dalam pelayanan menjadi hal yang sangat krusial untuk menyukseskan penempatan di Indonesia. Layanan konsultasi perlu dilaksanakan pengantar kerja untuk dapat memberikan saran mengenai pilihan kerja, menggali minat bakat atau menanyakan kembali pengalaman kerja dari pencari kerja merupakan langkah awal untuk membantu mereka merasa lebih percaya diri dalam menghadapi dunia kerja. Hal ini akan berdampak positif pada produktivitas dan kesejahteraan pribadi serta berkontribusi menciptakan Indonesia yang lebih maju dan sejahtera

.jpeg)