Artikel
Inovasi tidak selalu hadir dalam bentuk teknologi. Kadang justru muncul dari keberanian mengubah cara lama agar lebih relevan dan berdampak. Disnaker Kabupaten Cirebon menunjukkan hal ini melalui kemitraan langsung dengan pelaku UMKM, sebuah pendekatan segar yang berbeda dari model pelatihan konvensional yang selama ini terpusat di BLK atau pemagangan di Perusahaan besar. Dengan menempatkan usaha kecil sebagai ruang belajar dan pelaku usaha sebagai pendamping aktif, pelatihan menjadi lebih kontekstual, adaptif, dan terhubung langsung dengan kebutuhan riil dunia kerja lokal.
Kondisi Ketenagakerjaan Kabupaten Cirebon: Tantangan dan Urgensi Penyesuaian Kompetensi
Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) di Kabupaten Cirebon pada tahun 2024 tercatat sebesar 6,74 persen, hampir sama dengan angka TPT Provinsi Jawa Barat yang mencapai 6,75 persen. Capaian ini mencerminkan tren penurunan yang cukup konsisten dari tahun ke tahun, namun tetap menjadi alarm penting bagi daerah. Di saat yang sama, jumlah penduduk terus bertambah hingga menyentuh angka 2.387.900 jiwa, dengan laju pertumbuhan penduduk sebesar 1,35 persenpada tahun yang sama.
Pertumbuhan penduduk dari tahun ke tahun di satu sisi menjadi bonus demografi, namun di sisi yang lain memunculkan sebuah tekanan demografis yang tak bisa diabaikan, terutama dalam penyediaan lapangan kerja baru yang memadai. Tidak dapat dipungkiri, pertambahan penduduk tentu seiring dengan pertambahan tenaga kerja baru. Hal ini juga berarti semakin banyak individu usia produktif yang masuk ke pasar tenaga kerja, menuntut sistem penyiapan tenaga kerja yang lebih responsif dan adaptif terhadap dinamika kebutuhan dunia kerja.
Pemerintah Kabupaten Cirebon telah menempatkan isu ketenagakerjaan sebagai salah satu indikator makro utama yang hendak dicapai pada tahun 2026. Bersama dengan target peningkatan Indeks Pembangunan Manusia dan penurunan angka kemiskinan, pengurangan tingkat pengangguran menjadi salah satu prioritas strategis pembangunan daerah. Hal ini menunjukkan bahwa pengembangan model penyiapan tenaga kerja yang mampu menjawab kebutuhan nyata pasar kerja menjadi sesuatu yang mendesak.
Masalah missmatch antara kompetensi dan keterampilan tenaga kerja dengan kebutuhan dunia usaha dunia industri menjadi penyebab utama kesenjangan antara jumlah pencari kerja dan ketersediaan pekerjaan yang sesuai. Banyak pencari kerja memiliki semangat tinggi, namun belum dibekali dengan keterampilan yang dibutuhkan oleh pasar kerja. Dalam upaya mengatasi hal ini, Pemerintah Kabupaten Cirebon melalui Dinas Ketenagakerjaan mengambil langkah strategis untuk menghubungkan proses peningkatan kompetensi dengan sistem penempatan kerja yang terarah dan sesuai dengan kondisi riil dunia kerja.
Salah satu inovasi yang diinisiasi adalah penyelenggaraan program penguatan kompetensi dan produktivitas pencari kerja berbasis kemitraan antara pemerintah dan pelaku usaha menengah dan kecil. Pendekatan ini menekankan pada keterlibatan langsung pelaku usaha atau industri dalam mendampingi, membimbing, menilai, dan pada akhirnya menyalurkan pencari kerja ataupun bermitra, sehingga terbentuk keterkaitan erat (link) antara proses pembinaan Sumber Daya Manusia (SDM) dan kebutuhan kerja aktual di lapangan.
Menyesuaikan dengan Kebutuhan Dunia Kerja
Program dimulai dari pemetaan kebutuhan keterampilan dan kompetensi yang dibutuhkan di lapangan kerja, khususnya dari sektor-sektor usaha mikro kecil maupun menengah yang aktif dan memiliki kapasitas menyerap tenaga kerja. Bidang usaha yang dipilih meliputi makanan olahan (processing), cake/bakery, menjahit dan garmen, barbershop, teknik logam dan las, hingga pemasaran digital. Sektor-sektor tersebut seluruhnya merupakan sektor yang sedang tumbuh dan memiliki permintaan pasar cukup tinggi.
Proses seleksi secara terbuka dilakukan untuk menentukan 30 pencari kerja yang nantinya akan dipilih untuk mengikuti program ini. Program dilaksanakan selama 20 hari kerja pada bulan Juli tahun 2024. Mereka disalurkan ke tempat usaha mitra berdasarkan minat dan kecocokan bidang pada saat proses wawancara. Sebelum masuk ke tempat kerja, peserta dan mitra bertemu dalam forum penyelarasan ekspektasi, sehingga sejak awal telah terjalin komunikasi dua arah yang produktif.
Langkah ini menjadi pembeda utama dari pendekatan pelatihan formal biasa. Di sini, peserta tidak hanya menerima materi dalam ruang kelas, tetapi juga melalui tahapan penyelarasan dan jalinan komunikasi dua arah sebelum praktik langsung di lapangan. Seluruh proses ini dirancang agar peserta mengalami suasana kerja nyata secara utuh, dengan pendampingan harian oleh praktisi usaha yang berperan sebagai mentor. Pendekatan ini membuat pembelajaran terasa lebih hidup dan berorientasi langsung pada kebutuhan dunia kerja.
Praktik Langsung di Tempat Usaha
Mitra usaha yang terlibat berasal dari berbagai sektor, seperti Rollia Bakery, Rafa Cake, Nifari Food, CV Andhara, Muna Collection, Salon Mody Ismanto, Bengkel Las Darmo, Setia Kawan Teknik, hingga Mawar Fashion. Di tempat-tempat ini, peserta belajar sambil bekerja. Mereka terlibat langsung dalam aktivitas produksi, pelayanan konsumen, desain produk, hingga promosi digital.
Salah satu mitra, Bapak Didi Kusnadi dari Mawar Fashion, menyampaikan kesannya:
“Kami sangat senang dilibatkan dalam program Disnaker Kab. Cirebon. Artinya kami dipercaya membantu para pencari kerja meningkatkan kemampuan dan kepercayaan dirinya memasuki dunia kerja.”
Kegiatan kemitraan dalam rangka peningkatan kompetensi bagi pencari kerja ini dilaksanakan secara kolaboratif, dengan pemantauan secara rutin untuk memastikan pelaksanaan sesuai dengan tujuan, serta memberikan pendampingan kepada peserta. Evaluasi harian dilakukan guna menilai perkembangan kompetensi peserta, sekaligus memberikan umpan balik secara cepat dan tepat. Kehadiran mitra usaha dalam membimbing peserta secara langsung menciptakan suasana adaptif yang turut berkontribusi dalam mengarahkan peserta agar semakin siap menghadapi dunia kerja.
Hasil yang Terukur dan Relevan
Hasil dari program ini cukup menjanjikan. Berdasarkan evaluasi akhir, terdapat peningkatan keterampilan peserta sebesar 85 persen dibandingkan indikator awal. Hasil dan pencapaian tidak hanya soal angka, namun tujuan yang ingin dicapai selama pelaksanaan adalah sebuah transformasi pada diri peserta. Mereka bukan hanya dilatih, tetapi hidup dalam ritme dan realitas dunia kerja sesungguhnya.
Selama kegiatan berlangsung, para peserta tidak hanya menjalani pelatihan teknis, melainkan juga merasakan sendiri dinamika kerja di UMKM yang memiliki karakter jam kerja yang fleksibel namun padat, tuntutan ketepatan waktu, ketelitian produksi, dan kemampuan menghadapi pelanggan secara langsung. Mereka benar-benar mempelajari hal baru seperti halnya mengatur waktu, menyelesaikan pekerjaan di bawah tekanan, hingga menyesuaikan diri dengan gaya komunikasi dan budaya kerja di tempat masing-masing.
Pengalaman ini membentuk bukan hanya keterampilan teknis, tetapi juga mentalitas kerja yang lebih siap dan adaptif. Beberapa peserta bahkan langsung ditawari untuk melanjutkan magang atau bekerja secara formal oleh mitra usaha tempat mereka belajar. Tidak sedikit pula yang mulai menjalin relasi profesional, baik dengan sesama peserta maupun dengan pelaku usaha, membuka jalan bagi peluang kolaborasi atau pengembangan usaha mandiri di masa depan.
Keberhasilan program ini tidak hanya diukur dari peningkatan kompetensi dan kemampuan teknis semata, namun juga dengan berkurangnya hambatan psikologis dan struktural yang biasanya menghalangi pencari kerja pemula untuk masuk ke dunia kerja. Dengan keterlibatan pelaku usaha secara langsung dalam sebuah proses pembelajaran, maka kepercayaan dan kesiapan peserta dipastikan akan meningkat. Adaptasi yang biasanya memakan waktu berbulan-bulan di tempat kerja, kini dipangkas hanya dalam hitungan minggu. Ini bukan hanya pelatihan kompetensi biasa, tetapi sebuah akselerasi nyata menuju dunia kerja.
Kolaborasi sebagai Kunci
Kata kunci dari pendekatan ini terletak pada kolaborasi. Pemerintah daerah tidak sendirian sebagai pelaksana kegiatan, melainkan menjadi fasilitator sinergi antara pencari kerja dan pelaku usaha. Mitra dilibatkan sejak awal, dari perencanaan, pelaksanaan, hingga evaluasi. Hal ini menciptakan rasa kepemilikan (sense of ownership) yang kuat dari semua pihak.
Model kolaboratif ini menjadi bentuk inovasi nyata dalam tata kelola peningkatan kompetensi yang selama ini cenderung terpusat pada institusi pemerintah. Dengan membuka ruang partisipasi aktif dari pelaku usaha lokal, proses peningkatan kompetensi tidak hanya menjadi lebih relevan, tetapi juga lebih terarah pada peluang kerja yang benar-benar tersedia. Keterlibatan swasta sebagai mentor dan penilai langsung mendorong terjadinya proses pembelajaran yang kontekstual sekaligus seleksi alamiah. Peluang menuju dunia kerja menjadi lebih terbuka bagi setiap individu yang menunjukkan potensi dan mampu beradaptasi secara positif. Inovasi ini menjadikan kegiatan peningkatan kompetensi bukan akhir dari proses, melainkan pintu masuk ke jaringan usaha produktif yang ada di sekitar peserta. Inilah wujud nyata dari pendekatan link and match yang tidak hanya wacana, tetapi terimplementasi dalam sistem kerja kolaboratif yang saling menguatkan.
Di sisi lain, peserta juga mengalami proses transformasi. Beberapa individu yang semula pasif menunggu peluang kerja, mereka berkembang menjadi tenaga kerja yang aktif, memiliki kepercayaan diri, orientasi pasar, dan mulai memahami dinamika kerja yang sesungguhnya.
Tantangan dan Komitmen Daerah
Paparan strategis Pemerintah Kabupaten Cirebon pada awal 2025 menegaskan bahwa pengangguran dan kualitas SDM merupakan isu strategis daerah yang mendesak. Upaya penanganannya memerlukan desain program yang tidak terjebak pada program rutinitas semata, tetapi langsung menyasar kepada hasil terserapnya pencari kerja oleh dunia usaha dunia industri dan dunia kerja, yang berdampak pada penurunan angka pengangguran dan pengentasan kemiskinan ekstrem. Hal ini sejalan dengan gambaran permasalahan daerah yang lebih luas, di mana kualitas SDM yang belum optimal, pertumbuhan ekonomi yang belum berada pada level semestinya, serta tingkat pengangguran dan kemiskinan yang masih tinggi menjadi tantangan utama pembangunan daerah. Ketiga aspek tersebut saling terkait dan berkelindan, sehingga menuntut solusi yang tidak bersifat integratif dan terukur.
Melalui model kemitraan ini, Kabupaten Cirebon memulai pendekatan baru yang fokus pada efektivitas penempatan kerja. Pemerintah tidak hanya memberi bekal Kompetensi dan keterampilan, tetapi menjembatani hubungan kerja antara peserta dan mitra sejak sebelum kegiatan dimulai. Ini adalah bentuk nyata dari prinsip link and match yang selama ini hanya menjadi wacana. Dengan membuka ruang kolaborasi antara pemerintah dan pelaku usaha lokal, program ini menjadi salah satu langkah inovatif dalam mendorong pertumbuhan ekonomi berbasis sumber daya manusia yang kompeten. Pendekatan seperti ini mampu menciptakan dampak ganda, yaitu mengurangi angka pengangguran sekaligus memperkuat struktur ekonomi lokal di saat pertumbuhan ekonomi belum mencapai level yang diharapkan.
Skema Replikasi dan Pengembangan
Melihat hasilnya yang positif, model ini potensial untuk direplikasi di sektor dan wilayah lain. Beberapa hal yang dapat dijadikan acuan replikasi antara lain:
- Pemetaan akurat kebutuhan DUDIKA di tingkat lokal
- Seleksi peserta yang berbasis potensi dan minat
- Kolaborasi erat antara pemerintah, dunia usaha, dan komunitas lokal
- Pendekatan berbasis pengalaman langsung di tempat kerja
- Evaluasi berbasis luaran dan keterhubungan pasca kegiatan
Dengan fokus pada keberlanjutan dan perluasan jangkauan, model kemitraan ini dapat dijadikan salah satu kegiatan guna menurunkan angka pengangguran secara signifikan di tingkat kabupaten/kota.
Kesimpulan
Program kemitraan antara Disnaker Kabupaten Cirebon dan pelaku usaha lokal membuktikan bahwa penguatan kompetensi tenaga kerja tidak harus dilakukan di ruang kelas. Pengalaman kerja langsung yang disesuaikan dengan kebutuhan DUDIKA akan menciptakan dinamika dunia kerja yang lebih nyata, efisien, dan berdampak positif.
Model ini tidak hanya menyiapkan angkatan kerja untuk masuk pasar kerja, tetapi juga memperkuat struktur ekonomi lokal dengan menyediakan tenaga kerja yang benar-benar siap pakai. Pada akhirnya, pendekatan berbasis kemitraan menjadi jembatan antara tantangan ketenagakerjaan dan kebutuhan dunia usaha yang terus berkembang.
Jika dikelola secara konsisten dan inklusif, kolaborasi semacam ini akan menjadi motor penggerak bagi penurunan pengangguran dan percepatan penempatan kerja yang efektif di daerah.
- Proses Pelatihan Produktivitas Menjahit pada Konveksi CV. Andara
- Monitoring dan Evaluasi Proses Pelaksanaan Pelatihan Produktivitas Pemasaran Digital pada Mawar Fashion

