Artikel
Tren mencari kerja di luar tempat tinggal semula merupakan fenomena yang dinamis. Hasil Longform Sensus Penduduk BPS Tahun 2020 menunjukkan angka migrasi seumur hidup netto tertinggi terjadi di Kepulauan Riau, Kalimantan Utara, dan Kalimantan Timur. Migrasi seumur hidup netto di Provinsi Kepulauan Riau sebesar 40,55 persen dengan salah satu wilayah konsentrasi migran tertinggi di Kota Batam.
Siapa yang tak kenal kota Batam. Kota di Kepulauan Riau ini lebih dikenal daripada nama provinsinya sendiri. Secara keseluruhan wilayah Kepulauan Riau terdiri dari 5 kabupaten, dan 2 kota, 52 kecamatan serta 299 kelurahan/desa dengan jumlah 2.408 pulau besar dan kecil. Adapun luas wilayahnya sebesar 8.201,72 km², sekitar 96 persen merupakan lautan, dan hanya sekitar 4 persen daratan. Walaupun sangat luas dan terdiri dari ribuan pulau, namun konsentrasi penduduk terbesar ada di Kota Batam. Berdasarkan data BPS (hasil proyeksi penduduk interim), jumlah penduduk Kepulauan Riau pada akhir 2024 adalah 2.183.300 jiwa. Dari jumlah tersebut, sebanyak 1.276.000 orang tinggal di Kota Batam atau sekitar 58,49 persen, sementara sisanya tersebar di 6 kabupaten/ kota lainnya.
Migrasi Total dan Migrasi Risen di Kepulauan Riau
Migrasi merupakan fenomena sosial yang terjadi sejak lama dengan berbagai faktor pendorong. Salah satu faktor utama yang mendorong individu atau kelompok untuk berpindah adalah harapan akan kehidupan yang lebih baik. Seiring dengan pertumbuhan ekonomi yang cukup stabil dan tingginya aktivitas industri, Kepulauan Riau (Kepri) menjadi salah satu magnet bagi para pencari kerja dari berbagai daerah di Indonesia. Fenomena ini serupa dengan pepatah lama, "ada gula, ada semut," di mana keberadaan sumber daya ekonomi yang melimpah menarik banyak orang untuk datang dan mencari peluang.
Seseorang bisa dikatakan sebagai migran risen, apabila tempat tinggal lima tahun yang lalu berbeda dengan tempat tinggal sekarang (pada saat pencacahan). Selanjutnya seseorang berstatus migran seumur hidup, apabila tempat lahir berbeda dengan tempat tinggal sekarang (pada saat pencacahan). Migrasi masuk ke Provinsi Kepulauan Riau secara umum dan Kota Batam khususnya memiliki karakteristik yang menarik. Pada dekade awal 2000, migran masuk ke Kota Batam didominasi oleh penduduk perempuan dan sebagian besar berada pada usia produktif, namun beberapa penelitian terakhir menunjukkan pergeseran. Dalam penelitian Analisis Determinan Dan Pola Migrasi Internal Penduduk Provinsi Kepulauan Riau (Sari dan Tannur, 2023) ditemukan kecenderungan laki-laki menjadi migran ke Batam lebih besar dibandingkan perempuan.
Selain itu juga terdapat migran masuk karena alasan deportasi atau juga yang sebelumnya pernah bekerja di luar negeri. Hal ini cukup wajar mengingat letak geografis Provinsi Kepulauan Riau yang strategis. Wilayah Kepulauan Riau berbatasan dengan Malaysia dan Singapura, sehingga menjadi tujuan transit sebelum/ setelah bekerja ke luar negeri.
Tabel 1. Jumlah Angkatan kerja berdasarkan tempat tinggal 5 tahun yang lalu dan status kebekerjaan di Kota Batam Tahun 2024
Tempat tinggal 5 tahun yang lalu | Status kebekerjaan | |||
Bekerja | Pengangguran | Total | ||
di kab/kota yang sama | n | 562.646 | 44.245 | 606.891 |
% | 92.7% | 7.3% | 100.0% | |
di kab/ kota yang berbeda | n | 42.896 | 5.705 | 48.601 |
% | 88.3% | 11.7% | 100.0% | |
di Luar Negeri | n | 950 | 481 | 1431 |
% | 66.4% | 33.6% | 100.0% | |
Total | n | 562.646 | 44.245 | 606.891 |
% | 92.7% | 7.3% | 100.0% | |
Sumber: Sakernas Agustus 2024 (data diolah)
Dari tabel di atas, dapat dilihat bahwa TPT di Kota Batam sebesar 7,3 persen di mana angka ini lebih tinggi dari TPT Kepri sebesar 6,4 persen. Pada kelompok migrasi risen, TPT cukup tinggi yaitu sebesar 11.7 persen, untuk migrasi risen yang berasal dari kab/ kota lain, dan lebih tinggi lagi untuk yang berasal dari luar negeri yaitu sebesar 33,6 persen. Jika kita mengulik data sakernas lebih dalam dengan menggunakan data terpilah berdasarkan jenis kelamin, maka terdapat beberapa informasi sebagai berikut:
Gambar 2. Tingkat Pengangguran Terbuka berdasarkan jenis kelamin dan tempat tinggal lima tahun yang lalu
di Kota Batam 2024.
Sumber: Sakernas BPS, Agustus 2024 (data diolah)
Secara umum terdapat kecenderungan perbedaan pola tingkat pengangguran laki-laki dan perempuan. Pada kelompok angkatan kerja laki-laki, kontribusi tingkat pengangguran tampaknya berasal dari Kabupaten/ Kota yang sama lima tahun yang lalu. Sementara pada laki-laki yang berasal dari kabupaten/ Kota yang berbeda memiliki tingkat pengangguran sangat kecil yaitu sebesar 1 persen. Sedangkan untuk kelompok angkatan kerja perempuan, terjadi hal sebaliknya di mana angkatan kerja perempuan yang tinggal di kab/ kota yang sama memiliki tingkat pengangguran yang lebih rendah dibandingkan perempuan yang dalam 5 tahun terakhir tinggal di kab/ kota yang berbeda dengan persentase 28,3 persen. Bahkan untuk kasus perempuan yang dalam 5 tahun sebelumnya berada di luar negeri, persentase pengangguran sangat tinggi yaitu mencapai 33,6 persen walaupun secara jumlah mungkin sangat kecil.
Hal ini kemungkinan disebabkan banyaknya angkatan kerja perempuan yang menjadi pekerja di perusahaan/ industri dan setelah habis kontrak tidak kembali ke daerah asal dan tetap berusaha mencari kerja di Kota Batam. Ada pula kemungkinan, perempuan yang ikut suami bekerja di Kota Batam dan ingin juga bekerja tetapi belum mendapatkan pekerjaan yang sesuai. Perlu dilakukan kajian lebih lanjut mengenai fenomena ini, misalnya dilihat dari status perkawinan, kelompok umur dan tingkat pendidikan.
Ket: Layanan SIAP KERJA oleh pengantar kerja Dinas Tenaga Kerja dan
Transmigrasi Prov Kepri pada Job Fair Poli Batam 2025
Implikasi Kebijakan Ketenagakerjaan
Tingkat pertumbuhan ekonomi di Kepri khususnya Kota Batam sebagai pusat industri dan perdagangan, menarik banyak tenaga kerja. Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) di Batam telah menjadi rumah bagi banyak perusahaan manufaktur dan industri jasa sehingga membuka peluang kerja bagi masyarakat lokal maupun pendatang. Dengan laju pertumbuhan PDRB dari tahun ke tahun tertinggi dan Upah Minimum Regional (UMR) yang juga tertinggi di Sumatra, secara langsung atau tidak langsung menyebabkan tingginya pencari kerja yang bermigrasi ke Kepri.
Dengan kondisi spesifik di Provinsi Kepulauan Riau, beberapa rekomendasi kebijakan yang dapat dilaksanakan antara lain:
- Peningkatan kualitas pendidikan vokasi dan pelatihan vokasi: Meningkatnya jenis jabatan dan beragamnya kebutuhan dari Kawasan industri memaksa sisi supply menyesuaikan dengan kebutuhan pasar kerja. Ketersediaan Lembaga Pelatihan Kerja milik pemerintah maupun swasta akan sangat mendukung penyediaan tenaga kerja kompeten untuk menjawab kebutuhan pasar kerja. Kehadiran BLK milik Kementerian Ketenagakerjaan di Kawasan Industri Kabil diharapkan dapat memberi manfaat, tentunya diperlukan penguatan sarana prasarana pendukung pelatihan. Untuk meminimalkan gap skill, perusahaan dapat melakukan pelatihan berbasis industriy atau pemagangan dan berkoordinasi dengan Dinas Tenaga Kerja setempat.
- Pemetaan potensi dan perluasan kesempatan kerja di luar Kota Batam: perlu dikaji lebih lanjut peluang dan potensi kawasan ekonomi di luar Kota Batam, agar terjadi pemerataan dan perluasan kesempatan kerja. Tentunya dengan potensi kekuatan lokal yang dikemas sehingga memberikan nilai tambah pada produk daerah dan didukung dengan konektivitas antar pulau yang lebih baik.
- Kerja sama penyediaan tenaga kerja melalui forum bursa kerja khusus: Peluang penyediaan tenaga kerja yang sebenarnya telah dirintis melalui kerja sama pada saat praktik kerja lapangan siswa SMK, hendaknya dapat dilanjutkan dengan penempatan tenaga kerja pasca lulus sekolah. Peran dan partisipasi perusahaan/ industri juga sangat diharapkan dalam mendukung peningkatan kompetensi baik hard skill (salah satunya melalui teaching factory) maupun soft skill, dan tentunya dalam perekrutan dapat memprioritaskan angkatan kerja lokal.
- Penguatan iklim kewirausahaan terutama pada perempuan: Meningkatnya populasi akibat migrasi dapat mendorong meningkatnya peluang pekerjaan di sektor informal dan kewirausahaan. Peluang yang terbatas di sektor formal hendaknya tidak menyurutkan semangat, tetapi membuka peluang baru di berbagai bidang layanan jasa dan UMKM. Perempuan dapat mengambil peran untuk meningkatkan kesejahteraan keluarga dengan tetap berada di rumah dan memasarkan produk melalui penjualan daring. Produktivitas di sektor ini perlu mendapat perhatian, dan didukung dengan penguatan kompetensi pemasaran digital.
- Penguatan TKDV: Revitalisasi Pendidikan dan Pelatihan Vokasi membutuhkan Kerjasama dengan seluruh pemangku kepentingan. Seluruh unsur terkait hendaknya bekerja sama dalam mendukung informasi pasar kerja sebagai penghubung antara sisi supply dan sisi demand, sekaligus merancang peta jalan bagi penguatan pendidikan dan pelatihan vokasi. Saat ini TKDV Kepulauan Riau telah terbentuk dan sedang menyusun peta jalan.
Kunjungan Gubernur Kepulauan Riau ke SMKN 5 Kota Batam
Ket: Kegiatan Finalisasi Peta Jalan Rencana Pengambangan Vokasi oleh TKDV
Provinsi Kepulauan Riau bersama stakeholder
Kehadiran tenaga kerja dari berbagai daerah membawa keanekaragaman keterampilan dan pengalaman, yang dapat memperkaya pasar tenaga kerja di Kepri. Sebagaimana salah satu asas penempatan tenaga kerja dalam negeri yaitu ‘bebas’, maka pencari kerja dapat bebas memilih pekerjaan dan pemberi kerja juga bebas dalam memilih tenaga kerja. Namun sebagai bentuk sinergi peningkatan kualitas SDM untuk masyarakat setempat, peran dari dunia usaha, dunia industri, dunia kerja, dan pemangku kepentingan lainnya sangat diharapkan partisipasinya dalam penempatan tenaga kerja lokal.
Selain itu, penting bagi angkatan kerja lokal untuk terus meningkatkan kompetensi agar mampu bersaing dengan tenaga kerja pendatang. Pelatihan keterampilan, penyelarasan kurikulum pendidikan yang relevan dengan kebutuhan industri, serta sikap kerja yang baik seperti disiplin, profesionalisme, dan etos kerja tinggi harus menjadi fokus utama agar tenaga kerja lokal dapat bersaing dan mendapatkan manfaat maksimal dari pertumbuhan ekonomi di Kepri.
Pemerintah daerah dan pemangku kepentingan lainnya perlu bekerja sama untuk menciptakan ekosistem yang kondusif bagi perusahaan dan pencari kerja/ pekerja, agar dapat berkontribusi secara optimal terhadap pembangunan daerah. Dengan begitu, Kepri dapat terus berkembang menjadi wilayah yang maju, sejahtera, dan inklusif bagi semua.

