DARI GROBOGAN KE JEPANG: GELIAT TENAGA KERJA MUDA MENEMBUS KANCAH GLOBAL

DARI GROBOGAN KE JEPANG: GELIAT TENAGA KERJA MUDA MENEMBUS KANCAH GLOBAL

Jika mendengar nama Jepang maka sebagian besar orang akan terbayang sebuah negara maju dengan tingkat pendapatan bruto terbesar ketiga di dunia. Perekonomian negara yang dikenal dengan sebutan Dai Nippon (matahari terbit) ini ditopang beberapa sektor, seperti perikanan, pertanian, industri, teknologi, dan pertambangan. Akan tetapi, menjadi negara maju bukanlah tanpa tantangan. Saat ini, Jepang mengalami kegentingan demografi yang mengancam keberlangsungan dan kestabilan perekonomian. Dengan kata lain, kemajuan perekonomian di Jepang tidak berbanding lurus dengan angkatan kerja muda yang tersedia. Bahkan, Jepang dikenal sebagai negara dengan angka kelahiran yang rendah. Berdasarkan penelitian Nomura dkk (2016), Jepang sedang menghadapi dinamika struktur penduduk. Hal itu dikarenakan jumlah angka kematian jauh melampaui angka kelahiran. Penurunan angka kelahiran dan penuaan populasi mempunyai konsekuensi sosial dan ekonomi yang besar. Salah satunya, produktivitas perekonomian yang meningkat namun tidak sejalan dengan ketersediaan angkatan kerja. Jumlah populasi menua di Jepang semakin bertambah, sedangkan kelompok angkatan muda semakin berkurang.

Gambaran yang berbeda terlihat di Indonesia yang memiliki Sumber Daya Manusia (SDM) berlimpah. Besarnya jumlah penduduk Indonesia memiliki pengaruh besar, baik dalam segi sosial, ekonomi, maupun budaya. Oleh karena itu, ada banyak skema yang dikerjakan untuk mengatasi persoalan ledakan jumlah angkatan kerja. Pemerintah Indonesia berusaha menangkap peluang dari bonus demografi dengan optimalisasi peningkatan kompetensi SDM.

Berbagai usaha yang dilakukan Pemerintah Indonesia membuahkan hasil. Hal itu terbukti dari menurunnya tingkat pengangguran dalam kurun waktu 2022- 2023. Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), pada  2022 persentase jumlah pengangguran terbuka di Indonesia mencapai 5,86 persen sedangkan pada 2023 menurun sampai menyentuh angka 5,45 persen. Jumlah angkatan kerja pun sudah mencapai 146,62 juta dari 211,59 juta penduduk usia kerja. Penurunan jumlah pengangguran terbuka di Indonesia memberikan semangat untuk ke depan agar seluruh sektor dapat mempertahankan konsistensinya.

Untuk mempertahankan tren positif, Pemerintah Indonesia mendorong peningkatan kompetensi angkatan kerja melalui pemagangan. Problem defisit angkatan kerja muda di Jepang menjadi peluang yang ditangkap Pemerintah Indonesia untuk meningkatkan kompetensi SDM. Angkatan kerja muda diberikan kesempatan untuk bisa bekerja atau mengkuti pelatihan di Negeri Sakura. Program pelatihan yang dimaksud adalah partisipasi aktivitas magang kerja.

Peluang mengikuti program magang di Jepang disambut baik oleh Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Grobogan melalui Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans). Mereka  turut ambil bagian dalam mengembangkan kompetensi angkatan kerja muda dalam skala yang lebih luas. Secara statistik, persentase tingkat pengangguran di Kabupaten Grobogan mencapai angka 4,40 persen. Hal ini menjadi warning bagi Pemkab Grobogan, untuk berinovasi di bidang ketenagakerjaan baik dari segi pelatihan maupun pemagangan kerja. 

Program magang kerja ke Jepang termasuk bentuk kerja sama bilateral antara Indonesia dengan Jepang. Jumlah angkatan kerja yang melimpah di Indonesia dikirimkan ke Jepang untuk kegiatan program magang kerja. Di sana, mereka mendapatkan penghasilan, tambahan ilmu sesuai bidang kerja, pengalaman, wawasan kerja sekaligus mengasah keterampilan serta menempa etos kerja dan mental disiplin. 

Pemkab Grobogan berinisiatif untuk mengembangkan kompetensi SDM pada angkatan kerja muda melalui pemagangan kerja ke Jepang. Sikap optimistis Pemkab Grobogan didorong  kondisi sosial ekonomi di Kabupaten Grobogan yang memang memiliki cukup banyak jumlah Pekerja Migran Indonesia (PMI). Berdasarkan data BPS Jawa Tengah (2022), Grobogan masuk dalam lima besar kabupaten di Jawa Tengah dalam hal pengiriman PMI dengan jumlah 1,824 orang.

Selanjutnya, awal tahun 2023 Pemkab Grobogan menyelenggarakan Program Pemagangan Kerja ke Jepang untuk pertama kalinya. Tingkat antusiasme pendaftar program magang kerja ke Jepang terlihat saat awal proses seleksi. Terdapat 335 calon peserta magang kerja ke Jepang yang mendaftar dari berbagai daerah di seluruh Indonesia, mulai dari Grobogan, Garut, Bandung, Kuningan, Sukoharjo, Jombang, Kendal, Pekalongan, dan kota lainnya.

Untuk mengikuti kegiatan program magang kerja ke Jepang, calon pemagang harus melewati serangkaian seleksi. Pertama, mereka harus membuat akun dan mendaftar di laman jepang.magangln.id. Kemudian calon pemagang akan mengikuti rangkaian seleksi mulai dari seleksi administrasi, tes matematika, tes kesamaptaan tubuh, tes fisik, tes wawancara dan tes bahasa Jepang (kakunin). Dari beberapa tes yang telah dilaksanakan, pada tes kakunin terjaring 136 peserta magang Jepang yang dipastikan dapat mengikuti kegiatan pelatihan daerah. Dari 136 peserta yang telah lolos tersebut, dibagi menjadi dua gelombang. Gelombang pertama dimulai pada 10 Oktober- 19 Desember 2023 dan gelombang kedua pada 8 November 2023 sampai dengan 19 Januari 2024. Setelah peserta dinyatakan lolos dari rangkaian seleksi, peserta harus mengikuti kegiatan pelatihan daerah selama 70 hari  di  UPTD  BLK  Kabupaten  Grobogan.  Pendidikan  dan pelatihan  bahasa dan budaya Jepang diajarkan oleh instruktur yang disiapkan oleh pihak International Manpower Development Organization Japan (IM Japan), selaku asosiasi peserta magang dari Indonesia. Sedangkan pendidikan fisik, mental, dan disiplin diberikan oleh instruktur dari personil Kodim 0717 Grobogan. Selama 70 hari, peserta akan dilatih untuk siap bekerja di lingkungan budaya Jepang, dididik bekerja mengedepankan kedisiplinan dan kejujuran, serta ditempa mental dan fisik. Setelah lulus dari pelatihan daerah Tahap I, peserta akan diarahkan untuk kegiatan pelatihan Tahap 2 di Pusat Lembang. Apabila seluruh proses berjalan lancar, calon pemagang bisa mengikuti tahap pemberangkatan dan penempatan di Jepang.

Salah satu calon pendaftar program magang ke Jepang di Kabupaten Grobogan adalah Faqih Maulana. Faqih yang berasal dari keluarga sederhana menggantungkan harapannya untuk magang di Jepang. Ia mengungkapkan bahwa kegiatan pelatihan pra pemberangkatan tahap I yang dijalaninya merupakan perjalanan yang penuh perjuangan. Motivasi untuk meningkatkan kesejahteraan keluarga menjadi pemicu utamanya. Hal itu juga diungkapkan Shahrul Assegaf, pendaftar dari Grobogan yang juga bisa berharap lolos ke Jepang. Dia berharap bisa menabung untuk modal usaha saat pulang kembali ke Grobogan dan bisa meningkatkan kesejahteraan hidup keluarganya.

Proses panjang menuju pemberangkatan ke Jepang membentuk karakter pemagang yang akan mendukung pengembangan kompetensi mereka. Lebih lanjut, Program Magang Kerja ke Jepang adalah aksi nyata Pemkab Grobogan dalam merespons kesempatan untuk pengembangan kompetensi SDM pada Angkatan  Kerja Muda. Selain itu, juga sebagai upaya mengurangi tingkat pengangguran dalam lingkup Kabupaten Grobogan. Dengan begitu, bonus demografi tak sekadar dianggap sebagai ancaman sosial dan ekonomi, melainkan juga diartikan sebagai sumber daya manusia yang akan meningkatkan produktivitas ekonomi. Untuk meraih manfaat maksimal dari potensi SDM ini, diperlukan peningkatan mutu, baik dalam pendidikan, keterampilan, maupun karakter. Langkah-langkah tersebut penting guna memperkuat kompetensi SDM menghadapi dinamika pasar tenaga kerja, memastikan pertumbuhan ekonomi Indonesia yang tangguh, dan bersiap bersaing di kancah internasional.


Kementerian Ketenagakerjaan Republik Indonesia © 2018 • Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang.